
REPUBLIKA.CO.ID,JAKARTA--Kementerian Badan Usaha Milik Negara (BUMN) menyatakan belum memberikan arahan apapun terkait merger Flexi-Esia yang digadang PT Telkom Tbk. Pasalnya, sampai saat ini Kementerian BUMN masih menunggu laporan akhir dari pihak Telkom. "Kami belum arahkan itu (merger Flexi-Esia) karena masih menunggu. Setahu saya, belum masuk tahap finalisasi kan mereka (Flexi-Esia)," kata Menteri BUMN Musatafa Abubakar saat ditemui di kantornya, Jakarta, Jumat (16/7).
Saat ini, Kementerian BUMN hanya mempelajari tawaran-tawaran yang ada. Bahkan, Mustafa mengungkapkan pihaknya memberikan kebebasan kepada Telkom untuk mencari kemungkinan yang paling tepat terkait langkah merger.
"Kami memberi kebebasan kepada Telkom, tapi saya lihat Telkom masih membuka peluang untuk berbagai versi terkait format kerjasamanya. Bentuk yang paling memungkinkan adalah 'joint venture'. Telkom membuka diri, tapi kelihatannya yang serisu itu memang Esia," terang Mustafa.
Menyinggung langkah merger Flexi-Esia, ia meminta agar tidak dikaitkan dengan pergantian direksi Telkom yang baru. Hal ini lantaran pembahasan rencana sinergi Flex-Esia sempat tertunda.
"Pembahasan Flexi-Esia 'off 'dulu sampai terbentuknya manajemen baru. Manajemen baru kan belum tentu punya strategi yang sama dengan yang lama. Kalau manajemen baru melihat kerjasama itu baik diteruskan, ya silakan. Kalau tidak, juga silakan." papar Mustafa.
Sebelumnya, ia mengatakan, perombakan direksi dan komisaris diperkirakan terlaksana sekitar Agustus-September 2010. Jajaran direksi dan komisaris yang baru, rencananya akan dipilih dalam Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB). Jika dihitung 35 hari dari RUPS, ujar Mustafa, maka RUPSLB Telkom akan jatuh pada bulan puasa mendatang.