Gas dari Natuna akan Dialokasikan untuk Ekspor
Selasa, 08 Desember 2009 05:12 WIB
JAKARTA--Pemerintah menegaskan bahwa produksi gas dari Blok Natuna D' Alpha Kepulauan Riau dialokasikan untuk ekspor. Menteri Energi dan Sumberb Daya Mineral Darwin Zahedy Saleh menyatakan, karena produksi gas Blok Natuna termasuk dalam skala yang besar, maka akan diutamakan untuk ekspor. ''Karena kalau sumber gas yang besar karena skalanya besar, menurut Unang-undang itu diutamakan untuk ekspor,'' kata Darwin kepada wartawan di Jakarta. Senin (7/12).
Meski demikian, kata dia, ada juga sebagian porsi sudah diatur oleh Undang- undang untuk kebutuhan dalam negeri. ''Yang jelas untuk pasar domestik itu relatif terbatas untuk skala yang besar,'' kata Darwin. Karena lanjut dia untuk lapangan skala besar ini cultivasinya memberikan jangka panjang sehingga memerlukan pasar ekspor.
''Perlu jaminan pasar dalam jangka waktu yang panjang di atas 20 atau 25 tahun untuk sampai itu bisa diperpanjang sesuai dengan ketentuan yang berlaku,'' papar Darwin.
Sementara itu mengenai status operatorship Blok Natuna, kata Darwin, sejauh ini tetap diserahkan ke Pertamina. ''Yang jelas kita ingin mengedepankan perusahaan BUMN kita, dalam hal ini Pertamina yang akan aktif di situ,'' kata dia.
Mengenai pemilihan mitra yang akan menjadi penadamping Pertamina mengelola blok tersebut Darwin menyatakan, hal itu diserahkan kepada mekanisme yang obyektif.''Kami akan mendorong Pertamina untuk membuat skema atau skenario untuk mendapatkan mitra yang paling baik,'' kata Darwin.
Saat didesak kemungkinan mitra yang paling cocok untuk Pertamina Darwlin berkilah. ''Kita harus obyektif, tidak boleh personal,'' kata dia.
Meski demikian, Darwin pun mengakui penentuan mitra Pertamina untuk mengelola blok tersebut jangan sampai terlambat karena bisa berdampak di masa depan. ''Tapi kita juga tidak boleh menomorduakan langkah-langkah sistemik yang mempertimbangkan faktor strategis,''kata Darwin.
Pada kesempatan terpisah Dirjen Migas Evita menyatakan bahwa untuk Term and Condition nya Blok Natuna sudah selesai dan saat ini sudah diberikan ke BP Migas. Namun Evita mengaku lupa tentang splitnya antara Pertamina dan mitra dalam pengelolaan blok tersebut.
Sementara itu juru bicara Pertamina, Basuki Trikora Putra memaparkan, saat ini masih ada delapan calon mitra yang sedang dipertimbangkan sebagai pendamping Pertamina. Yaitu ExxonMobil, Total, Chevron, StatOil, Shell, China National Petroleum Corp (CNPC). Petronas, dan Eni SpA. Saat ini kata Basuki perkembangannya adalah dalam mempertimbangkan mitra yang layak di antara yang layak perlu dilakukan pemilihan peserta terbaik.
''Yang penting untuk Pertamina adalah mereka bersedia transfer knowledge, pengalaman dan keahlian manajerial yang mereka miliki kepada SDM Pertamina,'' kata Basuki, Senin (7/12).
Sedangkan terkait alokasi gas dari blok tersebut, kata Basuki, tetap untuk memenuhi kebutuhan domestik meski tidak menutup kemungkinan ekspor. ''Karena bagaimanapun juga hal ini diperhitungkan juga nilai keekonomian produk,'' tandas Basuki. cep/kpo
Meski demikian, kata dia, ada juga sebagian porsi sudah diatur oleh Undang- undang untuk kebutuhan dalam negeri. ''Yang jelas untuk pasar domestik itu relatif terbatas untuk skala yang besar,'' kata Darwin. Karena lanjut dia untuk lapangan skala besar ini cultivasinya memberikan jangka panjang sehingga memerlukan pasar ekspor.
''Perlu jaminan pasar dalam jangka waktu yang panjang di atas 20 atau 25 tahun untuk sampai itu bisa diperpanjang sesuai dengan ketentuan yang berlaku,'' papar Darwin.
Sementara itu mengenai status operatorship Blok Natuna, kata Darwin, sejauh ini tetap diserahkan ke Pertamina. ''Yang jelas kita ingin mengedepankan perusahaan BUMN kita, dalam hal ini Pertamina yang akan aktif di situ,'' kata dia.
Mengenai pemilihan mitra yang akan menjadi penadamping Pertamina mengelola blok tersebut Darwin menyatakan, hal itu diserahkan kepada mekanisme yang obyektif.''Kami akan mendorong Pertamina untuk membuat skema atau skenario untuk mendapatkan mitra yang paling baik,'' kata Darwin.
Saat didesak kemungkinan mitra yang paling cocok untuk Pertamina Darwlin berkilah. ''Kita harus obyektif, tidak boleh personal,'' kata dia.
Meski demikian, Darwin pun mengakui penentuan mitra Pertamina untuk mengelola blok tersebut jangan sampai terlambat karena bisa berdampak di masa depan. ''Tapi kita juga tidak boleh menomorduakan langkah-langkah sistemik yang mempertimbangkan faktor strategis,''kata Darwin.
Pada kesempatan terpisah Dirjen Migas Evita menyatakan bahwa untuk Term and Condition nya Blok Natuna sudah selesai dan saat ini sudah diberikan ke BP Migas. Namun Evita mengaku lupa tentang splitnya antara Pertamina dan mitra dalam pengelolaan blok tersebut.
Sementara itu juru bicara Pertamina, Basuki Trikora Putra memaparkan, saat ini masih ada delapan calon mitra yang sedang dipertimbangkan sebagai pendamping Pertamina. Yaitu ExxonMobil, Total, Chevron, StatOil, Shell, China National Petroleum Corp (CNPC). Petronas, dan Eni SpA. Saat ini kata Basuki perkembangannya adalah dalam mempertimbangkan mitra yang layak di antara yang layak perlu dilakukan pemilihan peserta terbaik.
''Yang penting untuk Pertamina adalah mereka bersedia transfer knowledge, pengalaman dan keahlian manajerial yang mereka miliki kepada SDM Pertamina,'' kata Basuki, Senin (7/12).
Sedangkan terkait alokasi gas dari blok tersebut, kata Basuki, tetap untuk memenuhi kebutuhan domestik meski tidak menutup kemungkinan ekspor. ''Karena bagaimanapun juga hal ini diperhitungkan juga nilai keekonomian produk,'' tandas Basuki. cep/kpo
55 reads
Isi Komentar





yaa begini ini kalo negara dikuasai oleh NeoLib...
Balaskekayaan negara bukan untuk dinikmati oleh rakyat dengan dalih ekspor...