Jumat , 15 December 2017, 09:03 WIB

Dirjen Bea Cukai Raih Penghargaan BHACA 2017

Rep: Ronggo Astungkoro/ Red: Gita Amanda
Republika/Iman Firmansyah
Dirjen Bea dan Cukai Heru Pambudi dalam Anugerah Bung Hatta Anti Corruption Award 2017 Jakarta, Kamis Malam (14/12). Tahun ini Anugrah Bung Hatta Anti Corruption Award di berikan kepada Dirjen Bea dan Cukai Heru Pambudi dan Bupati Bantaeng , Sulawesi Selatan Nurdin Abdulah.
Dirjen Bea dan Cukai Heru Pambudi dalam Anugerah Bung Hatta Anti Corruption Award 2017 Jakarta, Kamis Malam (14/12). Tahun ini Anugrah Bung Hatta Anti Corruption Award di berikan kepada Dirjen Bea dan Cukai Heru Pambudi dan Bupati Bantaeng , Sulawesi Selatan Nurdin Abdulah.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Bupati Bantaeng Nurdin Abdullah dan Direktur Jenderal Bea Cukai Heru Pambudi mendapatkan Bung Hatta Anti-Corruption Award (BHACA) 2017. Keduanya dianggap sebagai pribadi yang menumbuh-kembangkan tata kelola pemerintahan yang baik, bersih, dan bertanggung jawab.

"Nurdin Abdullah mempunyai komitmen yang sangat tinggi dalam membangun pemerintahan daerah yang bersih dari korupsi dan maju," ungkap Anggota Dewan Juri BHACA 2017 Betti Alisjahbana di Financial Hall Graha CIMB Niaga, Jakarta Selatan, Kamis (14/12).

Menurut Betti, selama kepemimpinan Nurdin perekonomian Bantaeng, Sulawesi Selatan, tumbuh pesat. Pendapatan per kapita masyarakat di sana meningkat tajam dan angka penganggurannya turun drastis.

"Sedangkan Heru Pambudi memimpin reformasi kepabeanan dan cukai demi mencapai pelayanan yang lebih cepat, lebih bagus, dan lebih transparan," lanjut dia.

Betti mengungkapkan, meski perjalanan pembenahan di Bantaeng dan Bea Cukai masih panjang, dewan juri menilai komitmen serta usaha konsisten yang ditunjukkan keduanya. Menurut dewan juri, kedua aspek tersebut membuat Nurdin dan Heru layak untuk mendapatkan penghargaan.

Sementara itu, Ketua Dewan Pengurus Harian Perkumpulan BHACA Natalia Soebagjo menyebutkan, tahun ini, dewan juri telah menentukan penghargaan itu tidak hanya jatuh kepada seorang kepala daerah saja. Seorang aparatur sipil negara juga mendapatkan penghargaan BHACA.

"Tantangan yang dihadapi masing-masing untuk mempertahankan integritas pribadi serta membangun sistem tata kelola yang baik di lingkungan mereka, walau pun dalam skala berbeda, tetap sama beratnya," ungkap Natalia.

Di mana saja, kata dia, melawan arus memerlukan keberanian dan mengandung risiko. Niat untuk melakukan perubahan, keberanian untuk melaksanakannya, dan hasil nyata yang telah mereka capai perlu diakui dan dihargai.

"Bagaimana pun juga, perubahan besar yang dicita-citakan harus diawali dengan langkah nyata pertama dan berawal dari diri sendiri. Semoga mereka bisa terus jadi panutan dan sistem yang mereka bangun menjadi landasan kokoh untuk selangkah demi selangkah membangun Indonesia yang bersih," ujar dia.