Selasa 06 Apr 2021 13:25 WIB

Doni Monardo: 81 Orang Meninggal Akibat Bencana di NTT

Jumlah korban meninggal pun diperkirakan masih akan terus bertambah.

Rep: Dessy Suciati Saputri/ Red: Andi Nur Aminah
Ketua Satuan Tugas Penanganan Covid-19, Doni Monardo
Foto: BNPB
Ketua Satuan Tugas Penanganan Covid-19, Doni Monardo

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Doni Monardo menyampaikan, bencana banjir bandang dan tanah longsor yang terjadi di Nusa Tenggara Timur (NTT) dan Nusa Tenggara Barat (NTB) menyebabkan setidaknya 81 orang meninggal dunia. Menurut Doni, jumlah korban meninggal pun diperkirakan masih akan terus bertambah.

"Untuk sementara korban jiwa yang meninggal itu sekitar 81 orang tapi mohon maaf data ini mungkin akan berubah setiap jam," ujarnya saat konferensi pers, Selasa (6/4).

Baca Juga

Ia menyebut, terdapat 11 daerah di NTT dan juga di NTB yang terdampak cuaca ekstrem dari badai siklon tropis Seroja. Berdasarkan data terkini yang diterimanya, terdapat 105 warga yang masih dalam pencarian.

Bencana ini juga menyebabkan ratusan rumah mengalami rusak berat, sedang, dan ringan. Untuk penanganan dampak bencana, jelas Doni, BNPB telah menyiapkan beberapa helikopter yang digunakan untuk mobilisasi logistik dari Kupang ke Malaka dan juga ke Pulau Alor. Sebanyak dua helikopter di antaranya pun telah tiba di Kupang.

Selain itu, BNPB juga menyiagakan satu pesawat kargo di Kupang untuk membantu distribusi logistik baik ke Pulau Alor, Lembata, dan kawasan lainnya. Sementara itu, pemerintah juga telah menyediakan fasilitas kesehatan bagi warga terdampak bencana. Kendati demikian, ia mengakui tenaga dokter di lokasi bencana masih terbatas.

"Adapun untuk fasilitas kesehatan di hampir semua tempat tersedia fasilitas kesehatan walaupun tenaga dokter masih terbatas dan Kemenkes sudah koordinasi untuk mendatangkan dokter dari beberapa provinsi termasuk dari Sulawesi Selatan dan daerah Timur," jelasnya.

Sedangkan untuk obat-obatan yang dibutuhkan hingga saat ini masih terpenuhi. Namun menurut Doni, peralatan medis untuk merawat pasien yang mengalami patah tulang masih sangat terbatas.

"Kami sudah berkoordinasi untuk segera datangkan dari Jakarta dan dari Surabaya serta dari Makassar," tambahnya.

 

 

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement