Senin 03 Aug 2020 20:01 WIB

Haji Terbatas Buat Pedagang Ternak Somalia Merugi

Haji Terbatas Buat Pedagang Ternak Somalia Merugi

Rep: Muhyiddin/ Red: Muhammad Hafil
Haji Terbatas Buat Pedagang Ternak Somalia Merugi. Foto: Sebuah foto selebaran yang disediakan oleh Kementerian Media Saudi menunjukkan para peziarah berdoa selama Tawaf Al-Ifadah selama ritual simbolis
Foto: EPA-EFE/SAUDI MINISTRY OF MEDIA HANDOUT
Haji Terbatas Buat Pedagang Ternak Somalia Merugi. Foto: Sebuah foto selebaran yang disediakan oleh Kementerian Media Saudi menunjukkan para peziarah berdoa selama Tawaf Al-Ifadah selama ritual simbolis

REPUBLIKA.CO.ID,  MOGADISHU -- Setiap pelaksanaan ibadah haji, para peternak dan pedagang ternak di Somalia selalu mengekspor jutaan ternak ke Arab Saudi untuk memberi makan jamaah haji. Tapi, karena tahun ini pemerintah Arab Saudi membatasi pelaksanaan ibadah haji  para pedagang ternak Somalia menderita.

"Bisnis itu buruk," kata seorang pedagang ternak Somalia, Yahye Hassan seperti dikutip dari laman Arabnews, Senin (3/8).

Baca Juga

Yahye biasanya menjual dagagannya di pasar ternak terbesar Mogadishu, Ibu Kota Somalia yang kini menjadi tempat penyebaran virus Covid-19. Akibatnya, negara-negara Arab Saudi sekarang tidak membutuhkan lagi hewan dari Somalia.

Bahkan, menurut dia, orang-orang tidak mau lagi membawa ternak ke kota untuk diperdagangkan karena takut terinfeksi virus Covid-19.  "Efek virus corona sudah jelas," kata Hassan.

Padagang ternak lainnya di Mogadishu, Nur Hassan juga mengatakan hal senada. Menurut dia, sekarang dirinya kekurangan pembeli domestik dan asing lantaran adanya Covid-19. Pasokan hewan juga mengalami penurunan.

"Ada penurunan besar dalam permintaan," ungkap Nur Hassan.

Pelaksanaan ibadah haji di Arab Saudi telah dimulai sejak Minggu lalu. Ibadah haji hukumnya wajib bagi setiap muslim yang telah memenuhi syarat, yakni mampu secara fisik dan secara finansial. Namun, tahun ini pemerintah Saudi telah membatasi jumlah jamaah haji.

Permintaan Saudi menyumbang hampir dua pertiga dari ekspor ternak tahunan Somalia. Bank Dunia melaporkan bahwa lebih dari 5 juta domba, kambing, unta dan sapi dikirim ke utara dari pelabuhan-pelabuhan Somalia melalui Teluk Aden dan Laut Merah ke Arab Saudi pada 2015.

Ekspor hewan ternak diperkirakan akan dipotong setengah untuk tahun ini, terutama karena pembatasan ibadah haji. "Pembatalan Haji memiliki implikasi besar pada kehidupan dan mata pencaharian penduduk Somalia," kata Direktur Somalia untuk Aksi Melawan Kelaparan, Ahmed Khalif.

Dia menambahkan bahwa ternak menyumbang sekitar 60 persen dari pendapatan rumah tangga di sebagian besar pedesaan di Somalia. "Ini merupakan pukulan bagi rumah tangga pastoralis Somalia khususnya, yang sangat bertahan hidup pada ekspor ternak ke Saudi,” ucapnya.

Menurut Khalif, hingga tiga perempat dari pendapatan ekspor Somalia berasal dari peternakan. Hal itu menjadikan penjualan hewan ke luar negeri sebagai jalur hidup penting bagi ekonomi Somalia. Ibadah haji tahunan biasanya merupakan momentum terbaik yang dapat diandalkan para penggembala, tetapi tidak untuk tahun ini.

"Ekspor ternak terjadi sepanjang tahun, tetapi mayoritas (70 persen hewan hidup) terjadi selama musim haji ini," kata Khalif.

Khalif mengatakan, penguapan ekspor telah menyebabkan kelebihan pasokan di pasar lokal di mana harga telah turun secara dramatis. Unta saja kini hanya dihargai 500 dolar Amerika Serikat, setengah dari harga biasanya.

Hal itu mungkin menjadi berita baik sebagian kecil konsumen yang kaya, tapi merupakan bencana bagi sebagian besar peternak yang hanya mengandalkan penjualan untuk membeli makanan, membayar hutang, dan menutupi kebutuhan dasar lainnya.

Seorang pedagang ternak di kota pelabuhan Eyl,Isse Muse Mohamed mengatakan, yang emakin memperburuk keadaan, untuk memelihara hewan itu lebih lama dari yang diperkirakan dengan menguras sumber daya yang terbatas.

"Memelihara ratusan kambing dan domba selama satu tahun ekstra jelas akan menimbulkan biaya, termasuk gaji para penjaga," katanya.

"Ini benar-benar krisis,” imbuhnya.

Penghasilan yang jatuh, meningkatnya biaya dan hilangnya pasar haji membuat pemilik peterkanan semakin menderita. Seperti yang dialami pemilik peternakan di kota selatan Hudur, Adow Ganey. “Ketika keluarga menginginkan uang tunai untuk barang-barang yang diperlukan, seperti gula dan pakaian, kami biasa membawa satu atau dua kambing ke pasar,” katanya.

Tetapi, lanjut Ganey, tahun ini segalanya telah berubah. Dia harus menjual lebih banyak kambing untuk mendapatkan uang yang dibutuhkan.

Peternak dan pedagang ternak Somalia telah hidup dalam konflik dan ketidakstabilan politik selama berpuluh-puluh tahun. Siklus kekeringan dan wabah belalang juga masih terus belangsung di Somalia. Kini, pembatasan ibadah haji semakin membuat mereka menderita.

"Kami belum pernah melihat situasi seperti ini," kata seorang eksportir ternak di kota Hargeisa, Abdqadar Hashi.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement