Sabtu 23 May 2020 16:09 WIB

Inggris Wajibkan Karantina Mandiri Bagi Pendatang

Inggris mewajibkan karantina mandiri bagi pendatang mulai 8 Juni.

Rep: Rizky Jaramaya/ Red: Nur Aini
Suasana jalan pada saat jam sibuk pagi hari saat hari pertama pembukaan masa lockdown akibat pandemi COVID-19 di London, Senin (11/5). Perdana Menteri Inggris Boris Johnson mengumumkan pada hari Minggu kembai membuka aktifitas perkantoran setelah masa lockdown akibat pandemi COVID-19.
Foto: AP/Kirsty Wigglesworth
Suasana jalan pada saat jam sibuk pagi hari saat hari pertama pembukaan masa lockdown akibat pandemi COVID-19 di London, Senin (11/5). Perdana Menteri Inggris Boris Johnson mengumumkan pada hari Minggu kembai membuka aktifitas perkantoran setelah masa lockdown akibat pandemi COVID-19.

REPUBLIKA.CO.ID, LONDON -- Pemerintah Inggris mewajibkan karantina mandiri selama 14 hari bagi pendatang mulai 8 Juni, untuk mencegah penyebaran virus corona. Apabila ada yang melanggar, maka dikenakan sanksi denda sebesar 1.000 poundsterling.

Persyaratan itu tidak berlaku bagi pengemudi truk, pekerja pertanian musiman, dan tenaga medis. Pengecualian juga dilakukan bagi pendatang dari Republik Irlandia, Channel Island, dan Isle of Man.

Baca Juga

Penumpang yang tiba di Inggris akan diminta untuk mengisi formulir secara online, dan memberikan rincian di mana mereka akan melakukan karantina mandiri. Pemerintah menyatakan, akomodasi untuk karantina mandiri yang diusulkan harus memenuhi persyaratan, seperti hotel atau alamat pribadi.

Pendatang baru akan dihubungi oleh petugas dan dikunjungi oleh otoritas kesehatan untuk melakukan pemeriksaan. Selama karantina mandiri, mereka tidak boleh pergi membeli makanan atau kebutuhan pokok lainnya.

Menteri Dalam Negeri Priti Patel mengatakan, pemberlakuan karantina mandiri bagi pendatang bertujuan mengurangi risiko kasus yang melintasi perbatasan. Patel mengatakan, pemerintah tidak sepenuhnya menutup perbatasan terutama menjelang libur musim panas.

"Kami tidak menutup sepenuhnya. Kami tidak menutup perbatasan. Ini bukan sama sekali tentang liburan, kami ingin menghindari gelombang kedua dan itu sangat vital," ujar Patel, dilansir BBC. 

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement