Kamis 26 Mar 2020 11:39 WIB

Fathu Makkah dan Islamnya Abu Sufyan

Orang sepenting Abu Bakar As-Shiddiq ikut dalam rasa penasaran.

Red: A.Syalaby
Gurun Sahara. Ilustrasi
Foto: Reuters
Gurun Sahara. Ilustrasi

REPUBLIKA.CO.ID, Sepuluh ribu manusia bersenjata menderapkan langkahnya ke arah barat. Mereka tak tahu apa yang sedang mereka tuju. Hanya segelintir orang saja yang sudah paham akan kemana pasukan raksasa ini diarahkan. Bahkan, orang sepenting Abu Bakar As-Shiddiq ikut dalam rasa penasaran.

Dikutip dari buku Ketika Rasulullah Harus Berperang karangan Prof Ali Muhammad Ash Shallabi, pasukan mini beranggotakan delapan orang yang dikirim terlebih dahulu ke lembah Idham membuat orang-orang semakin bertanya. Pasukan di bawah pimpinan Abu Qatadah ini membuat orang berasumsi bahwa pasukan Muhammad akan menyerang Thaif. Padahal, pasukan itu sengaja diarahkan Muhammad untuk mengecoh kaum Quraisy tentang rencana besar ini. 

Bekal iman kepada Sang Rasul membuat mereka yakin. Mereka tetap saja mengayuhkan langkahnya tanpa banyak tanya. Meski demikian, rencana itu hampir saja bocor. Hathib bin Abu Balta’ah menulis surat untuk dikirimkan ke penduduk Makkah melalui tangan seorang perempuan. Isinya mengabarkan keberangkatan Rasulullah kepada mereka. 

Rasulullah pun mengirim Ali bin Abu Thalib, Zubair dan Al-Miqdad untuk menangkap perempuan itu di Raudhah Khak. Jaraknya 12 mil dari Madinah. Utusan Rasulullah itu pun mengancam akan memeriksa perempuan itu jika tidak menyerahkan surat tersebut. Alhasil, dia tunduk kemudian mengeluarkan surat yang disimpan di pakaiannya untuk diserahkan kepada mereka. 

Pasukan pun terus berderap.  Menjelang Makkah, sepuluh ribu obor dinyalakan.  Tepatnya di Marr Azh Zhahran, tempat pasukan Muslimin beristirahat dan makan malam.  Abu Sufyan, tokoh kunci kaum Quraisy pun berkata, “Aku belum pernah melihat api dan pasukan seperti malam ini.” Badil bin Warqa, yang ikut menyertai Abu Sufyan mencari kabar tentang kehadiran kaum Muslimin menjawab, “Demi Allah, ini Khuza’ah yang terbakar perang.” Abu Sufyan menjawab, “Khuza’ah lebih kecil dan lebih hina dari pasukan ini.” 

Abu Sufyan lantas menemui Rasulullah pada keesokan paginya. Dia pun menyatakan keislaman di hadapan nabi dan pamanda  Abbas bin Abdul Muthalib. Sadar bahwa Abu Sufyan merupakan tokoh yang menyukai kebanggaan, Nabi lantas memberikan kehormatan kepada Abu Sufyan atas saran Abbas. “Barang siapa masuk ke rumah Abu Sufyan, dia aman. Barang siapa menutup pintunya, maka dia aman. Dan barang siapa memasuki Masjidil Haram, maka dia aman.” 

Pasukan itu tak tertahan. Dari tiga penjuru, kaum Muslimin berhasil menguasai Makkah tanpa kecuali. Memang ada perlawanan dari Ikrimah bin Abu Jahal yang berhasil menggalang sekutu di sebuah daerah bernama Khandamah. Namun, kekuatan mereka tak bisa menandingi keperkasaan Khalid bin Walid yang memimpin pasukan penyisir di sekitar lembah. Mereka lari tunggang langgang. Ikrimah yang berhasil lari ke Yaman kemudian kembali untuk menyatakan keislamannya di hadapan Rasulullah. 

sumber : Dialog Jumat
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement