Senin , 29 September 2014, 12:31 WIB

Mental Minta Dilayani

Pengirim : Wisnu Widjaja
Ilustrasi

Banyak orang besar, dimulai dari ikhtiar plus kerja kerasnya. Banyak orang sukses karena ketekunan dalam belajar dan usaha. Banyak orang kaya melalui proses keprihatinan yang panjang. Banyak orang punya harta melimpah melalui proses "berhemat" serta ketekunannya.

Tapi, banyak orang berhasil, sukses, kaya raya, naik haji, punya mobil mewah mengilap. Merasa malu atau gengsi dikatakan orang udik/desa. Bahkan, ada yang malu mengakui asal-muasal desanya sendiri.

Itu wajar karena sifat manusia yang merasa "malu" disebut orang desa! Malu dikatakan dari "kampung". Soal kualitas pribadi, nomor sekian! Nyaris tak menghiraukan.

Apalagi mereka yang punya jabatan serta kekuasaan. Jabatan publik yang seharusnya "melayani rakyat", justru minta "dilayani". Manajemen produktivitas tidak jalan secara baik dan maksimal karena selalu minta "dilayani".

Itulah yang kini terlihat jelas dalam struktur ketatanegaraan kita. Benih-benih pelayanan maksimal pada publik tak tercapai/tak tersentuh. Mereka "malu" memberi pelayanan kepada rakyat. Mereka sekadar duduk manis sembari tangannya selalu pegang hape. Bisanya "perintah" via SMS atau telepon.

Namun, ini hanya oknum. Transparansi serta konsep kejujuran kadang jauh dari oknum pejabat tersebut. Yang dimainkan hanya power, power, and power.

0 KOMENTAR

 

Kirim Suara Pembaca

Silakan kirim suara pembaca melalui form berikut ini.Tidak semua surat yang masuk ditayangkan di ROL. Redaksi mengutamakan surat yang ditulis dengan baik disertai identitas yang jelas, berupa foto diri dan scan KTP/kartu identitas lain.Semua kolom harus diisi.