Memaknai Lingkungan dari Lukisan Refleksi Sungai

Pengunjung menyaksikan karya grafis lithografie Sri Maryanto, Bentara Budaya Yogyakarta, Sabtu (13/5).

REPUBLIKA.CO.ID, YOGYAKARTA -- Pegrafis Sri Maryanto kembali menggelar pameran tunggal Lithografie kedua, 13-21 Mei 2017 di Bentara Budaya Yogyakarta. Antok, sapaan Sri Maryanto, merefleksikan sungai sebagai fokus utama karya grafisnya.

Melalui refleksi sungai, Antok mencoba menyoroti isu lingkungan. Terutama soal pergeseran fungsi maupun kondisi sungai dari waktu ke waktu. Tema sungai cukup langka untuk menjadi sebuah tema karya grafis. Terlebih, Antok setia menuangkan idenya melalui teknik klasik grafis 'litho'. Teknik ini bahkan sangat langka di Indonesia. Antok mengungkapkan, karya-karyanya kali ini sebagai gambaran dari ingatannya soal sungai pada masa kecil.

Bagi sosok yang lahir di Klaten ini, sungai akrab di kehidupan sehari-hari. Antok merefleksikan ingatannya pada sungai melalui 36 karya yang dibuat di Studio Lithografie, kampus AdBK, Muenchen, Jerman.

"Seluruh karya bercerita tentang refleksi pengalaman atau ingatan masa kecil tentang sungai. Sungai adalah tempat mengalirnya sumber kehidupan," tutur dia kepada Republika.co.id, Sabtu (13/5).

Tonny Lesmana, sosiolog yang sedang menempuh program Ph.D di Muenchen menyebut, sungai tidak hanya menyimpan aspek 'pengasih' atau memberikan segala sesuatu. Sungai juga menyimpan 'jasa pembuangan'.

Menurutnya, karya lithografie Sri Maryanto bertajuk 'Sungai' lebih banyak merefleksikan aspek 'jasa pembuangan' ini. "Rumah tangga manusia setiap harinya menghasilkan limbah atau benda-benda yang disortir untuk disingkirkan, karena dianggap sudah tidak memiliki guna," kata Tonny.

Kondisi saat ini, menunjukkan peran sungai yang sudah tak lagi mampu menjalankan 'jasa pembuangan'. Setiap hari, limbah yang dibuang ke sungai sangat mengkhawatirkan lingkungan. Artinya, apa yang Antok lakukan melalui 'Sungai'nya ini adalah mencoba mengingatkan pada isu-isu lingkungan. Usaha mengingat sungai ini dikuatkan dengan teknik lithografienya. Sebab, teknik ini adalah memindahkan tinta dari atas batu ke atas kertas. Tonny menambahkan, pada sisi lain, pengertian batu bagi Antok adalah rujukan sejarah. Dalam sisi personal menjelma sejarah dari ingatan seniman sendiri di masa kecil.

Pegiat grafis, Syahrizal Pahlevi mengungkapkan, pameran lithografie Sri Maryanto diharapkan mampu membimbing pikiran dan stereotip terhadap 'iman' seorang pegrafis. Sebab, pegrafis sangat rawan terhadap godaan. Mereka yang tidak kuat 'iman grafis'nya akan mudah pindah haluan ke media yang lebih mudah dan menjanjikan. Terlebih, kalau pegrafis mendapati respon pihak luar terhadap karyanya yang sebagaimana diharapkan.

Menurut Syahrizal, mengikuti perjalanan kesenimanan Antok cukup menarik. "Sri Maryanto cukup lama dikenal dengan teknik cukilan kayunya kali ini memamerkan karya-karya berteknik 'stone lithography'," ujar Syahrizal.

Padahal, teknik lithografie menjadi media yang mulai ditinggalkan. Teknik lithografie adalah teknik cetak klasik yang sudah berabad-abad digunakan untuk menyebarkan kisah-kisah suci dan ilmu pengetahuan di Eropa. Di Indonesia, teknik ini masih langka dan jarang dimanfaatkan seniman.

Berita terkait

Berita Lainnya